Batu Mulia Dengan Ukiran Wajah Tiga Dimensi

Wednesday, February 25, 2015

Batu Mulia Dengan Ukiran Wajah Tiga Dimensi

www.ArtikeList.com - Berita Fashion, Batu Mulia.

Berbeda dengan batu-batu permata hias pada biasanya dan batu mulia yang lain, batu permata hias yang dirancang oleh Wallace Chan ini terkandung wajah manusia yang diukir di dalamnya. Membuat wajah yang tampak di dalam batu permata hias tersebut memberikan nilai tambahan tersendiri bagi batu permata tersebut.

Batu Mulia Dengan Ukiran Wajah Tiga Dimensi

Batu permata hias dengan tampilan wajah manusia ini dikreasikan menggunakan teknik yang khusus dan dinamai oleh Chan sendiri dengan sebutan "Potongan Wallace". Memerlukan waktu 13 tahun bagi dirinya untuk mengembangkan teknik tersebut, hanya dirinyalah satu-satunya yang menguasai teknik ini.



Proses yang dilakukan untuk membentuk wajah manusia di dalam batu permata hias melibatkan bor yang biasa digunakan oleh para dokter gigi yang sudah ia modifikasi untuk membuat ukiran di dalam batu tersebut. Batu permata hias tersebut diukir dalam suhu yang tinggi, dengan ketepatan beserta tekanan yang pas.



Hal tersebut membuat Chan bisa bekerja dengan tingkatan detil yang pada biasanya sulit dicapai oleh para ahli permata lainnya, dan ini merupakan keuntungan tersendiri bagi dirinya. Dikarenakan bor yang digunakan bergerak berputar sangat cepat, hal tersebut mengakibatkan suhu panas yang mana dapat merusak batu tersebut.



Chan menggunakan bor dengan pisau khusus yang diadaptasikan untuk melakukan pekerjaan ini, kecepatan bor tersebut diketahui bergerak berputar sebanyak 36.000 kali dalam satu menit. Untuk meredakan panas tersebut, Chan mengembangkan cara bagi dirinya untuk melakukan proses pengeboran di dalam air.



Masalah yang ditemukan saat melakukan pengeboran untuk mengukir lukisan pada batu permata tersebut ialah cairan yang merendam batu tersebut terganggu oleh pergerakan bor sehingga mengacaukan penglihatan untuk bekerja. Atas dasar inilah Chan mengembangkan lagi sebuah proses yang sangat teliti yang terdiri dari membuat satu potongan, mengeringkan batu, memeriksanya, dan kemudian mengerjakan batu yang lain.



Proses rumit yang sangat memerlukan ketelitian tinggi tersebut bisa memakan waktu yang lama, namun hasil akhir yang didapat dapat dikatakan lebih dari pantas. Batu permata hias yang dikerjakan Chan bernilai sangat tinggi, dan pernah terjual dengan harga setinggi $73,5 juta US, atau sekitar hampir Rp. 1 triliun.



Dalam pemeriksaan yang dilakukan, tidak dapat dijelaskan bagaimana sebenarnya Chan melakukan potongan demi potongan ke dalam batu tersebut, itu dikarenakan permukaan dan visual daripada batu permata hias hasil kreasi Chan ini sangatlah rata dan halus sekali, sebuah karya yang bisa dikategorikan sempurna.

Ini memberi kesan misteri pada batu permata hias yang dikreasikan, seakan-akan wajah yang terdapat di dalam batu permata hias tersebut dikreasikan dengan magis. Namun bagaimanapun juga ketika batu tersebut dibalik, mengungkapkan teknik rahasia milik Chan dalam membuat ukiran ke dalam batu melalui bagian belakang batu tersebut.



Ini memberikan sedikit sorotan tentang keahliannya yang luar biasa tersebut, yang mana apabila dalam mengerjakan batu permata hias tersebut dengan cara ini berarti, kanan adalah kiri, atas adalah bawah, dan dalam adalah dangkal.

Wallace Chan yang lahir pada keluar miskin di Fuzhou pada tahun 1958, putus sekolah pada usia 13 tahun atas alasan untuk mencari nafkah untuk keluarganya, ia menjadi seorang ahli pahat yang mengukir lambang ikonik religi orang Tionghua.



Pada mahakarya tersebut, Chan mengerjakannya dengan menaruh jiwa dan kesadarannya ke dalam sebuah kreasi. Ia berkata, "Saya begitu terserap dalam prosesnya, sehingga saya melupakan eksistensi diri saya sendiri."

==========
"Pikiran saya adalah satu dengan karya, jasmani saya dihilangkan dari batu permata tersebut. Sangat emosional sekali, karena saya berada di dalam dunia batu permata tersebut, saya memusatkan perhatian terhadap bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan warna-warna."

=
Share on :